PP ITMI Gelar Pelatihan Da’i dan Imam Bagi Disabilitas Netra

Bidang da’wahPP ITMI yang salah satu fungsinya merencanakan dan menyelenggarakan pelatihan da’wah untuk pengurus dan atau anggota ITMI.

Bulan ini berencana menyelenggarakan pelatihan Da’i dan imam.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi anggota ITMI dalam bidang Da’wa dan sebagai imam sholat di tengah masyarakat.

Kegiatan pelatihan ini akan diselenggarakan secara virtual mulai tanggal 2 Januari s/d 1 Februari 2021.

Adapun yang menjadi pesertanya merupakan delegasi atau utusan dari masing-masing pengurus wilayah dan daerah.

Pernyataan Sikap Tentang Ucapan Presiden Prancis (Emmanuel Macron)

PERNYATAAN SIKAP
IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA (ITMI)
Nomor : 005/PS/PP-ITMI/III/1442 H

Tentang:
TENTANG UCAPAN PRESIDEN PRANCIS EMMANUEL MACRON
سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Bahwa Islam adalah agama yang memberikaqn kebebasan kepada penganutnya untuk menuangkan pemikiran-pemikiran dan ekspresi, sepanjang tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam.
Bahwa penampilan kartun Rasulullah Muhammad S.A.W yang dimuat dalam majalah Charlie Hebdo nyata nyata telah menghina umat Islam. Hal itu diperparah oleh ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyatakan bahwa “Islam adalah agama dalam krisis” benar-benar sangat melukai hati umat Islam di seluruh dunia .
Dengan memperhatikan kondisi yang berkembang, serta di dorong atas rasa tanggung jawab sebagai bagian dari umat Islam di dunia, maka kami Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia menyatakan pernyataan sikap sebagai berikut :
1. Mengecam pernyataan atau ucapan Presiden Prancis yang menganggap bahwa Islam sedang dalam krisis, karena hal tersebut nyata nyata telah menghina dan melukai umat Islam di seluruh dunia.
2. Mengecam tindakan Presiden Emmanuel Macron / pemerintah Prancis yang mendukung/membela penerbitan kartun nabi Muhammad di majalah Charlie Hebdo dengan alasan atau dalih kebebasan berekspresi.
3. Mendesak kepada pemerintah Republik Indonesia untuk setidak tidaknya melakukan :
a. Meninjau kembali hubungan diplomatik Indonesia dengan Prancis
b. Melakukan boycot terhadap produk-produk atau barang-barang buatan Prancis
4. Mengajak kepada seluruh umat Islam untuk bersatu padu secara apik, etis, dan elegant. dalam menghadapi tantangan dan gangguan dari musuh-musuh Islam.
5. Menginstruksikan kepada seluruh anggota Ikatan Tuannetra Muslim Indonesia agar memboycot produk / barang-barang buatan Prancis, sampai dengan pemerintah Prancis mengakui kekeliruan dan kesalahannyam akibat dari ucapan Presiden Emmanuel Macron dan dukungan pemeirntah Prancis terhadap penerbitan kartun Rasulullah Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo
Demikian pernyataan ini kami buat dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab kami sebagai salah satu bagian dari masyarakat dan umat Islam

والحمدلله رب العلمين
Cimahi, 17 Rabiul awal 1442 H
3 November 2020 M

Pengurus Pusat
Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI)

Ketua Umum

H. Yudi Yusfar

Sekretaris Jenderal

Yogi Madsuni

Pernyataan Sikap Tentang Penusukan Syekh Ali Jaber

PERNYATAAN SIKAP
IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA (ITMI)
Nomor : 003/PS/PP-ITMI/V/1442 H

Tentang:
PENUSUKAN TERHADAP ULAMA / DA’I YAITU SYEKH ALI JABER
سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Bahwa peran serta umat Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan mengisinya sampai saat ini, tidak terlepas dari peran serta para ulama.
Bahwa keberadaan ulama di tengah-tengah masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia patutlah diberikan apresiasi, penghormatan, dan pengagungan yang setinggi tingginya oleh pihak-pihak terkait termasuk pemerintah dan aparat yang berwenangt (TNI dan POLRI).
Bahwa akhir-akhir ini, dinegara kesatuan Republik Indonesia sering terjadi penghinaan, tindak kekerasan fisik terhadap para ulama yang dilakukan oleh kelompok/oknum yang tidak menyukai kemajuan masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia.
Bahwa apa yang terjadi pada Ulama / Penda’I Syekh Ali Jaber sekali lagi merupakan tindak kekerasan fisik yang menggambarkan adanya kelompok/oknum yang tidak menyukai terhadap kemajuan bangsa dan masayrakat Indonesia pada umumnya dan Umat Islam Indonesia pada khususnya.
Bahwa berdasarkan hal-hal diatas serta dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT, kami Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PPITMI) memandang perlu untuk menyatakan sikap terkait dengan penusukan Syekh Ali Jaber tersebut yaitu sebagai berikut :
1. Mengutuk keras penusukan yang dilakukan kepada Ulama/Da’i Syekh Ali Jaber pada hari Minggu 13 September 2020 di masjid salahudin Lampung dan tindakan-tindakan kekerasan fisik kepada para ulama sebelum itu, karena hal tersebut menunjukan kekerdilan kelompok/oknum dalam memandang persoalan tertentu.
2. Mendesak kepada aparat yang berwenang khususnya pihak kepolisian daerah Provinsi Lampung umumnya Kepolisian Republik Indonesia agar mengusut tuntas pelaku penusukan tersebut dan menghukum sekeras-kerasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia dan aparat yang terkait agar benar-benar melindungi para Ulama dan Da’i yang senantiasa keselamatan dan kebebasannya sebagai Da’i terancam oleh tindak dan perilaku musuh-musuh bangsa dan musuh-musuh Umat Islam.
4. Mengajak kepada seluruh Umat Islam di Indonesia untuk bahu membahu melindungi para ulama kita agar terhindar dari musuh-musuh Islam dimanapun berada dan mengajak kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk bersatu berdo’a memohon pertolongan dan perlindungan Allah agar bangsa dan Masyarakat indonesia selalu diberikan rahmat, barokah, dan bimbingan Allah SWT.
Demikian pernyataan sikap ini kami buat dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab kami sebagai salah satu bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

والحمدلله رب العلمين
Cimahi,26 Muharram 1442 H
14 September 2020 M

Pengurus Pusat
Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI)

Ketua Umum

H. Yudi Yusfar

Sekretaris Jenderal

Yogi Madsuni

Pedoman Penyelenggaraan Shalat ‘Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Qurban Tahun 1441 H

Pemerintah melalui kementerian terkait dalam hal ini Kementerian Agama telah menerbitkan pedoman penyelenggaraan Shalat ‘Idul Adha tahun 1441 Hijriah yang tercantum dalamSurat Edaran Nomor: SE. 18 TAHUN 2020.
(Tentang Penyelenggaraan Shalat ‘Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Qurban Tahun 1441 H / 2020 M)
“Menuju MASYARAKAT PRODUKTIF DAN AMAN COVID-19”

Ketentuan Penyelenggaraan Shalat ‘Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Qurban

1. Tempat penyelenggaraan kegiatan shalat Idul Adha dan
penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan di semua daerah
dengan memperhatikan protokol kesehatan dan telah melakukan
koordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat, kecuali pada tempat-tempat yang dianggap masih belum aman Covid-19 oleh Pemerintah Daerah/ Gugus Tugas Daerah.

2.Penyelenggaraan shalat Idul Adha tahun 1441 H/ 2020 M dibolehkan untuk dilakukan di lapangan/masjid/ruangan dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan;
b. Melakukan pembersihan dan disinfeksi di area tempat pelaksanaan;
c. Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protocol kesehatan;
d. Menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/ hand sanitizer di pintu/jalur masuk dan keluar;
e. Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu/jalur masuk. Jika ditemukan jamaah dengan suhu >37,5’C (2 kali pemeriksaan
dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area tempat pelaksanaan;
f. Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 meter;
g. Mempersingkat pelaksanaan shalat dan khutbah Idul Adha tanpa mengurangi ketentuan syarat dan rukunnya;
h. Tidak mewadahi sumbangan/sedekah Jemaah dengan cara menjalankan kotak, karena berpindah-pindah tangan rawan terhadap penularan penyakit;
i. Penyelenggara memberikan himbauan kepada masyarakat tentang protokol kesehatan pelaksanaan shalat Idul Adha yang meliputi:
1) Jemaah dalam kondisi sehat;
2) Membawa sajadah/alas shalat masing-masing;
3) Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area tempat pelaksanaan;
4) Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sinitezer;
5) Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan;
6) Menjaga jarak antar jemaah minimal 1 (satu) meter;
7) Menghimbau untuk tidak mengikuti shalat Idul Adha bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19.

3. Penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Penerapan jaga jarak fi’sik (Tthysical distancing), meliputi:
1) Pemotongan hewan kurban dilakukan di area yang memungkinkan penerapan jarak fisik;
2) Penyelenggara mengatur kepadatan di lokasi penyembelihan, hanya dihadiri oleh panitia dan pihak yang berkurban;
3) Pengaturan jarak antar panitia pada saat melakukan pemotongan, pengulitan, pencacahan, dan pengemasan daging;
4) Pendistribusian daging hewan kurban dilakukan oleh panitia ke rumah mustahik.
b. Penerapan kebersihan personal panitia, meliputi:
1) Pemeriksaan kesehatan awal yaitu melakukan pengukuran suhu tubuh di setiap pintu/jalur masuk tempat penyembelihan dengan alat pengukur suhu oleh petugas;
2) Panitia yang berada di area penyembelihan dan penanganan daging, tulang, serta jeroan harus dibedakan;
3) Setiap panitia yang melakukan penyembelihan, pengulitan, pencacahan, pengemasan, dan pendistribusian daging hewan harus menggunakan masker, pakaian lengan panjang, dan sarung tangan selama di area penyembelihan;
4) Penyelenggara hendaklah selalu mengedukasi para panitia agar tidak menyentuh mata, hidung, mulut, dan telinga, serta sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer;
5) Panitia menghindari berjabat tangan atau kontak langsung, serta memperhatikan etika batuk/bersin/meludah;
6) Panitia yang berada di area penyembelihan harus segera membersihkan diri (mandi) sebelum bertemu anggota keluarga.
c. Penerapan kebersihan alat, meliputi:
1) Melakukan pembersihan dan disinfeksi seluruh peralatan sebelum dan sesudah digunakan, serta membersihkan area dan peralatan setelah seluruh prosesi penyembelihan selesai dilaksanakan;
2) Menerapkan sistem satu orang satu alat. Jika pada kondisi tertentu seorang panitia harus menggunakan alat lain maka harus dilakukan disinfeksi sebelum digunakan.

Penutup

Surat edaran ini untuk dapat dipedomani dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dalam penyelenggaraan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. Sosialisasi dan pengawasan penerapan protokol kesehatan dilakukan oleh Aparat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kantor Kementerian Agama Kabupatenf Kota, dan Kantor Urusan Agama Kecamatan bersinergi dengan instansi yang membidangi fungsi kesehatan hewan dan instansi terkait.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua.

Demikian sebagian dari isi surat edaran nomor 18 tahun 2020 yang perlu kita sikapi dengan bijaksana.