JAKARTA, itmi.or.id — Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) menghadiri rapat koordinasi pembuatan website Layanan Al-Qur’an Inklusif yang diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), Kementerian Agama Republik Indonesia, Selasa (3/11/2026).
Dalam pertemuan tersebut, ITMI turut memberikan masukan dan melakukan pengujian langsung terhadap aksesibilitas website yang dirancang untuk penyandang disabilitas netra dan Tuli.
Rapat berlangsung pukul 13.00 WIB di Ruang Rapat lantai 3 kantor LPMQ, Gedung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jl. Raya TMII, Ceger, Kec. Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta.
Selain PP ITMI, kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI).
PP ITMI diwakili Ketua Umum Ust. H. Yogi Madsuni, Dwi Citolaksono, S.Pd., Staf Unit Riset dan Teknologi, serta Fitri Indri Utami sebagai pendamping.
Kehadiran ITMI merupakan bagian dari pelibatan organisasi penyandang disabilitas dalam proses koordinasi pengembangan website.
Masukan dari calon pengguna dinilai penting agar layanan yang disiapkan LPMQ tidak hanya tersedia secara digital, tetapi juga dapat diakses dan digunakan dengan baik.
Kedatangan para undangan disambut langsung oleh Kepala Subbagian Tata Usaha LPMQ, H. Muhammad Musadad Sidqi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran perwakilan ITMI dan ATMI.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir, baik dari ATMI maupun ITMI. Insya Allah kehadiran teman-teman semua dapat membantu kami dan semuanya menjadi amal jariyah, karena aplikasi ini akan digunakan publik. Semua bernilai kebaikan,” ujarnya.
Rangkaian rapat dilanjutkan dengan pemaparan aplikasi oleh Koordinator Pembuatan Aplikasi, H. Muhammad Zamroni Mahbub, M.Ag.
Ia menjelaskan sejumlah fungsi dan fitur website sekaligus memperagakan cara penggunaannya kepada peserta.
H. Zamroni meminta masukan dari para undangan, terutama mengenai aspek aksesibilitas.
Ia berharap keterlibatan organisasi penyandang disabilitas dapat membantu tim pengembang mengenali kebutuhan pengguna secara lebih tepat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan sejumlah mahasiswa dari UNINDRA yang terlibat dalam pembuatan aplikasi. Website yang diperagakan masih menggunakan server pengujian dan belum ditempatkan pada domain resmi LPMQ. Data yang digunakan dalam demonstrasi juga merupakan data dummy atau simulasi, bukan data pengguna sebenarnya.
Peluncuran akan menunggu penyempurnaan berdasarkan masukan yang diterima.
Selain layanan Al-Qur’an, website tersebut dirancang menyediakan fitur pelatihan dan pendaftaran bagi masyarakat. Informasi pelatihan nantinya dapat dimasukkan oleh organisasi, yayasan, atau lembaga penyelenggara kegiatan.
LPMQ juga berharap ITMI dan ATMI dapat memiliki akun pada platform tersebut sehingga kedua organisasi dapat menginformasikan sekaligus membuka pendaftaran pelatihan melalui website.
Ketua Umum PP ITMI, Ust. H. Yogi Madsuni, mengapresiasi kesempatan yang diberikan LPMQ. Namun, ia menyampaikan bahwa pemaparan saja belum cukup untuk menilai aksesibilitas sebuah aplikasi.
Menurutnya, pengujian perlu dilakukan secara langsung menggunakan perangkat dan teknologi bantu yang biasa digunakan penyandang disabilitas netra. Ia juga menjelaskan bahwa website yang aksesibel tidak harus memiliki tampilan visual berbeda dari website pada umumnya.
Sebagai contoh, Ust. H. Yogi Madsuni memperlihatkan website resmi ITMI, itmi.or.id, kepada peserta. Website tersebut memiliki tampilan sebagaimana situs pada umumnya, tetapi pengembangannya memperhatikan standar aksesibilitas agar dapat digunakan oleh pengguna pembaca layar.
Dwi Citolaksono mengiakan yang disampaikan ketua umum. Selanjutnya, ia meminta kesempatan untuk menguji website buatan LPMQ menggunakan laptop dan aplikasi pembaca layar yang dimilikinya.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung apakah menu, label, gambar, dan fitur website dapat diakses dengan baik oleh pengguna tunanetra.
Dari pengujian tersebut, Cito menilai bahwa website sudah cukup baik dalam keterbacaan sejumlah menu dan label. Meski demikian, ia menemukan beberapa bagian yang masih memerlukan perbaikan.
Salah satu temuannya adalah gambar yang belum dilengkapi teks alternatif atau alternative text (alt text). Akibatnya, pembaca layar belum dapat menyampaikan informasi mengenai gambar kepada pengguna tunanetra.
Cito mencontohkan ketika membuka halaman pelatihan, ia menemukan fungsi untuk memperbesar foto sampul. Namun, tidak ada keterangan yang menjelaskan gambar apa yang sedang ditampilkan.
Padahal, gambar tersebut bisa berupa poster kegiatan, flyer, atau informasi pelatihan.
Ia juga menyoroti struktur heading atau judul halaman yang perlu disusun secara logis dan berurutan. Struktur heading yang tidak konsisten dapat menyulitkan pengguna pembaca layar ketika menelusuri susunan informasi dalam sebuah halaman.
Dalam evaluasinya, Cito mengacu pada Web Content Accessibility Guidelines (WCAG), standar internasional untuk aksesibilitas konten web. Standar ini memiliki empat prinsip utama yang dikenal sebagai POUR, yaitu Perceivable (dapat dipersepsi), Operable (dapat dioperasikan), Understandable (dapat dipahami), dan Robust (andal).
Ia berharap sejumlah temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi tim pengembang sebelum website diluncurkan secara resmi. Menurutnya, pengujian langsung oleh pengguna disabilitas penting agar hambatan aksesibilitas dapat diketahui sejak tahap pengembangan.
Dalam rapat koordinasi tersebut, pembahasan juga mencakup penamaan layanan. H. Muhammad Zaini, M.Ag., (Salahseorang Pegawai di lingkungan LPMQ) menjadi salah satu pihak yang menyampaikan usulan nama Al-Qur’an Inklusif Disabilitas.
Usulan tersebut menjadi salah satu alternatif penamaan yang dibahas bersama peserta dan jajaran LPMQ. Nama itu mencerminkan tujuan layanan untuk memperluas akses penyandang disabilitas terhadap Al-Qur’an.
Rapat koordinasi kemudian ditutup oleh Kepala Subbagian Tata Usaha LPMQ dan dilanjutkan dengan menikmati kudapan bersama.
Partisipasi PP ITMI dalam pertemuan ini menjadi wujud keterlibatan organisasi dalam mendorong pengembangan layanan keagamaan yang memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas. Melalui masukan dan pengujian langsung, ITMI berharap website Layanan Al-Qur’an Inklusif dapat dikembangkan menjadi layanan yang mudah diakses dan digunakan secara mandiri oleh penyandang disabilitas netra maupun Tuli.








Tinggalkan Balasan